Join The Community

Search

Kereta Ekonomi Bogor Terakhir


Jam menunjukan pukul 22:00, saya langsung bergegas pulang dari kantor. Waktu kerja shift malam sudah berakhir, senang sekali karena memang sudah kepengen pulang dari tadi. Buru-buru keluar gedung dan sedikit berlari ke stasiun kereta. Untung lokasi kantor dengan stasiun kereta tidak terlalu jauh, sekitar 100 meter jarak dari kantor ke stasiun kereta Gondangdia. Agak khawatir juga karena kereta terakhir adalah jam 22:00, makanya jadi terburu-buru cepat ingin sampai di stasiun kereta agar masih bisa naik kereta bogor yang terakhir. Kalau sampai ketinggalan kereta terakhir, mau gak mau harus naik angkutan lain seperti taksi.
Berasa capek juga jalan dari kantor sampai ke stasiun Gondangdia dengan berlari kecil. Akhirnya sampai di stasiun gondangdia dan ternyata masih ada satu kereta ekonomi yang terakhir ke bogor. Jam 22:30 akhirnya kereta ekonomi bogor yang terakhir tiba di stasiun, senangnya….

Ternyata jam segini masih banyak juga penumpangnya sampai saya tidak mendapatkan tempat duduk meskipun tidak berdesakan. Setidaknya saya sangat beruntung sekali masih bisa naik kereta ini pulang, setidaknya tidak harus pulang dengan taksi. Naik di rangkaian gerbong kereta pertama, terdengar suara orkes dangdut keliling dari gerbong sebelah. Membuat suasana sepi malam menjadi ramai sepanjang perjalanan.

Ada satu pemandangan yang membuat saya miris dan prihatin ketika di kereta. Setelah kereta berhenti di stasiun cikini, masuk seorang ibu dengan dua anaknya. Anak yang besar membawa kantong plastik hitam besar dan anak yang kecil di dalam gendongan ibunya. Anak yang besar berusia sekitar 4-5 tahunan dan yang kecil di gendongan sekitar 2 tahunan. Malam hampir tengah malam seperti ini masih ada seorang ibu dengan dua anaknya naik kereta, entah akan kemana tujuannya. Ternyata kantong plastik hitam besar yang dibawa anak itu tadi berisi barang dagangan anak dan ibu itu. Jadi anak yang besar itu bertugas menjajakan barang dagangan yang ada di dalam kantong plastik hitam itu. Hanya korek kuping, tissue dan masker yang ditawarkannya kepada penumpang kereta yang rata-rata sedang duduk tertidur. Tampak sang ibu menunggu di gerbong kereta yang sama dengan saya, sementara anak yang besar berjalan menyusuri gerbong sambil menjajakan dagangannya kepada penumpang. Ya itulah salah satu pemandangan di kereta malam yang terakhir yang saya temukan, cukup membuat saya prihatin.

Pukul 11:00 akhirnya kereta tiba di stasiun tanjung barat, dan saya pun turun, tampak peron stasiun sudah sepi. Untungnya parkiran motor ruko tanjung mas raya buka 24 jam, jadi tidak perlu khawatir. Tapi ternyata pintu gerbang belakang komplek tanjung mas raya sudah ditutup, jadi terpaksa saya harus memutar pulang ke rumah melalui jalan nangka. Dan akhirnya sampai juga dirumah, lega sekali rasanya. Tapi pikiran saya masih terngiang dengan anak dan ibu di kereta tadi.  Saya cuma bisa prihatin dan kasihan saja melihat pemandangan seperti itu di kereta terakhir malam ini.

0 comments:

Post a Comment