Join The Community

Search

Perampok Bangsa-Bangsa

Diambil dari milis ssr-klub@yahoogroups.com


Konon kabarnya, dulu ada dua pulau yang saling bertetangga, jauh di
samudera lepas. Yang satu bernama Aya sedangkan yang lainnya bernama
Baya. Beberapa orang menyebutkan bahwa suku Sukus tinggal di Pulau
Aya. Aya merupakan pulau yang subur dengan tumbuh-tumbuhan yang hijau
lebat dan buah-buahan tropis yang menggoda.
Banyaknya air terjun dan
sungai di pulau tersebut membuat penduduknya merasa cukup dengan
persediaan air bersih sekaligus "surga" bagi para pelancong untuk
melakukan rekreasi. Lautan yang terhampar jauh dari polusi, dipenuhi
dengan ikan yang berlimpah dan makanan laut lainnya. Pulau ini pun
mengandung banyak emas, Suku Sukus, terutama kaum wanitanya, sangat
menggemari emas. Mereka menggunakan keping emas sebagai uang karena
setiap orang menghargai emas. Pemimpin suku bernama Saka yang mencetak
koin emas. Mereka hidup dalam suasana gotong royong dan tidak ada
beban bunga yang dikenakan dalam praktik pinjam-meminjam di antara
mereka.
Adakalanya, ombak yang disebabkan oleh pasang surut air laut dan angin
kencang meluluhlantakkan harta benda, khususnya rumah-rumah, akan
tetapi warga langsung bahu-membahu membangun kembali dan membetulkan
kerusakan tersebut. Masyarakatnya hidup damai, mereka menjalani hidup
dengan penuh rasa syukur.

Di lain sisi, Pulau Baya, dihuni oleh sekelompok orang yang menamakan
dirinya sebagai suku Tukus. Pemimpin mereka orang tua bernama Taka.
Pulau Baya, seperti halnya Pulau Aya, memiliki tanah yang subur dan
kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani yang membajak sawah
atau memelihara lembu, domba, dan unggas. Beberapa diantara mereka
sangat terampil dalam pekerjaan tangan dan memproduksi macam-macam
kebutuhan rumah tangga. Mereka pun hidup dalam suasana yang damai,
bergotong royong, dan tolong-menolong antara sesama. Bagaimanapun,
Tukus tidak begitu maju jika dibandingkan dengan Sukus, karena
melakukan transaksi dagang dengan cara barter. Tukus menyadari bahwa
Sukus lebih kaya, lebih sejahtera, dan memiliki beberapa kota yang
lebih "canggih" dibandingkan dengan kota mereka. Mereka selalu
berasumsi bahwa Sukus lebih berbakat dan lebih unggul dibandingkan
dengan mereka. Meskipun kadang kala mereka bertransaksi dagang dengan
Sukus *dengan cara barter, namun mereka tidak pernah mendapatkan ide
tentang uang.
Namun demikian, kaum wanitanya juga sangat menyukai emas, khususnya
perhiasan emas yang dibuat oleh suku Sukus.

Suatu hari, dua orang "cerdas" berpenampilan perlente tiba dengan
menggunakan kapal di perairan Kepulauan Aya. Mereka adalah Gago dan
Sago. Sukus dengan keramahannya menyambut tamu mereka yang baru. Gago
dan Sago menanamkan kesan pertama yang baik kepada warga Sukus dengan
cerita perjalanan laut mereka. Gago dan Sago menunjukkan kepada mereka
beberapa koin emas dari belahan dunia lain dan juga beberapa kertas
cetakan yang rupanya digunakan oleh orang yang hidup jauh sekali dari
kehidupan mereka sebagai uang. Sukus belum pernah melihat kertas
sebelumnya. Uang kertas itu ternyata memiliki gambar pisang di atasnya
*buah favorit mereka. Dua orang asing itu juga menunjukkan kepada
mereka sebuah mesin yang bisa mencetak uang tersebut. Wow! Ini menarik
bagi Sukus. Mereka betul-betul terpesona dengan pemandangan yang belum
mereka lihat sebelumnya. Seluruh penghuni pulau betul-betul menyukai
Gago dan Sago dan mengundang keduanya untuk tinggal di Pulau Aya
bersama mereka.

Gago dan Sago mulau meyakinkan penduduk bahwa sebuah lembaga yang
bernama bank akan memberikan manfaat banyak kepada masyarakat. Mereka
menerangkan bahwa bank akan menyediakan tempat untuk menyimpan dan
menjaga dengan aman uang emas yang juga akan meningkatkan kondisi
ekonomi dengan meningkatkan tabungan bagi orang lain untuk digunakan
dalam hal-hal produktif, yang jika didiamkan saja tidak akan
menghasilkan apa-apa. Sukus yang gemar menolong orang lain
menganggapnya sebagai ide gemilang. Gago dan Sago membangun bangunan
kecil yang mempunyai ruangan deposito dan mulai mengoperasikan bank
pertama di Pulau Aya.

Mereka merayakan hal itu dengan memberi seluruh penghuni pulau sebuah
pesta meriah yang penuh dengan makanan minuman dan atraksi menarik.
Setelah kejadian itu, masyarakat berbondong-bondong datang ke bank
untuk menyimpan koin emas mereka. Mereka lalu diberi secarik kertas
cetak untuk setiap koin emas dititipkan, dengan jaminan mereka bisa
menebus kembali koin emas untuk setiap kertas yang mereka kembalikan.
Masyarakat betul-betul "girang" dengan uang kertas yang mereka
dapatkan, apalagi di atasnya tertera gambar pemimpin mereka, Saka, di
sisi lain ada gambar pohon pisang. Tidak heran kalau kemudian Saka pun
merasa luar biasa senang!

Masyarakat lalu mendepositkan seluruh koin emas mereka, dengan jumlah
keseluruhan 100.000 keping, sama dengan jumlah keseluruhan
lembar-lembar kertas yang diberikan. Sekarang masyarakat menggunakan
kertas sebagai uang dan mereka merasa lebih nyaman dibandingkan
beratnya koin emas yang mereka gunakan sebelumnya. Uang kertas
tersebut dicetak oleh Gago dan Sago, oleh karenanya, menjadi mata uang
dominan di pulau Aya. Tidak ada seorangpun yang menggunakan koin emas
lagi. Masyarakat merasa puas dengan kemudahan uang kertas ketika
mereka bawa ke sana ke sini dalam transaksi-transaksi bisnis. Mereka
sangat mempercayai Gago dan Sago, karena setiap kali mereka membawa
secarik kertas untuk menebus kembali kepingan emas, permohonan mereka
dipenuhi. Gago dan Sago menjadi sangat dihormati dan disanjung dalam
komunitas mereka.

Suku Tukus yang mendengar kabar tentang segala yang terjadi di suku
Sukus turut bergembira dan juga memohon kepada Gago dan Sago untuk
membantu mereka. Gago dan Sago tersenyum satu sama lain dan mengatakan
bahwa mereka akan sangat senang bisa berbuat sesuatu untuk  suku
Tukus. Kemudian mereka membangun bangunan yang sama di Pulau Baya, dan
Sago ditempatkan di sana sebagai manager. Yang membedakan  Pulau Aya
dan Pulau Baya adalah Pulau Baya tidak mempunyai koin emas untuk
didepositokan. Sago mengatakan kepada mereka bahwa hal itu tidak
menjadi masalah. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap memberikan 1.000
uang kertas kepada setiap keluarga untuk digunakan sebagai uang.
Disebabkan ada 100 keluarga di pulau Baya, maka sebanyak 100.000 uang
kertas dicetak dan dibagikan kepada mereka. Bagaimanapun, Sago
memperingatkan mereka bahwa pada akhir tahun, setiap keluarga harus
mengembalikan 1.100 uang kertas, 10 persen merupakan beban yang harus
dibayar atas pelayanan yang diberikan olehnya. Tukus mendapatkan uang
kertas betul-betul bagaikan sulap. Uang kertas membuat
transaksi-transaksi bisnis mereka lebih mudah dibandingkan dengan
sistem barter yang mereka lakukan sebelumnya. Masyarakat menggunakan
waktu lebih efisien dalam melakukan transaksi dengan orang lain.
Sekarang mereka dapat melakukan spesialisasi dalam pencarian kerja
yang sesuai dengan keterampilan mereka. Ekonomi mereka mulai
berkembang secara cepat.

Sekarang Gago dan Sago memutuskan bahwa telah tiba waktunya untuk
menjalankan "muslihat" mereka. Gago memperhatikan bahwa di Pulau Aya,
rata-rata hanya 10 persen dari total 100.000 keping emas yang ditebus
oleh warga Sukus. Selebihnya yang 90 persen tetap disimpan di bank.
Mengetahui kalau kertas-kertas cetakan mereka sudah beredar luas dan
diakui sebagai uang, Gago mencetak kembali sebanyak 900.000 lembar
kertas untuk diedarkan sebagai uang! Gago menghitung bahwa dengan
tambahan uang kertas tersebut, total 1.000.000 lembar kertas akan
menjadi jumlah kekayaan yang menggiurkan bagi masyarakat dan jika
masyarakat datang untuk menebus hanya 10 persen dari total uang kertas
yang beredar, maka 100.000 keping emas yang dititipkan oleh suku Sukus
akan selalu ada untuk penebusan. (inilah proses bagaimana uang
ditambah (dicetak-ed) dalam proses perbankan yang sekarang berjalan
secara umum. Jika besaran giro wajib sebesar 10 persen, maka untuk
deposito sebesar 100.000, total uang yang bisa ditambahkan adalah
(100.000/0,10) – 100.000 = 900.000).

Gago meminjamkan 900.000 uang kertas tersebut bagi suku Sukus yang
"membutuhkan" dengan membebankan bunga sebesar 15 persen.

Suku Sukus tiba-tiba mendapatkan bahwa harga semua barang menjadi
mahal. Keadaaan ini sangat membingungkan mereka dan tidak ada
seorangpun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. (meningkatnya jumlah
uang yang beredar secara tiba-tiba tanpa dibarengi peningkatan jumlah
barang/jasa menyebabkan harga-harga cenderung naik).

Beberapa orang yang telah meminjam uang dari Gago tidak bisa membayar
balik utang mereka walaupun mereka sudah bekerja lebih keras untuk
mendapatkan uang lebih. (bunga pinjaman sebesar 15% dari total uang
yang dipinjamkan 900.000 adalah 135.000, sementarata total uang yang
beredar di suku Sukus saat ini hanya 1.000.000, maka akan selalu ada
kekurangan uang sebesar 35.000 oleh karena itu akan selalu ada
pinjaman yang mengalami default (gagal bayar-red) ).

Pasar menggeliat, transaksi bisnis yang terjadi betul-betul menjadi
lebih kompetitif, kompetisi untuk mendapatkan lebih banyak uang
menjadi semakin ketat,  empati masyarakat menjadi berkurang, dan rasa
peduli terhadap sesama pun hilang dibandingkan kondisi sebelumnya.
Kondisi suku Tukus ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi
tetangganya.

Awalnya mereka tidak begitu memperhatikan kenaikan harga barang yang
terjadi, akan tetapi mereka sangat heran dengan perubahan drastis
tingkah laku penduduk. Mereka menjadi sangat kompetitif dalam bersikap
dan hilang rasa kepedulian diantara sesama mereka. Walaupun dengan
bekerja lebih keras dan perubahan sikap yang lebih kompetitif,
beberapa masyarakat suku Tukus masih mengalami kegagalan dalam
mengembalikan utang mereka (default). Mereka tidak bisa mendapatkan
cukup uang untuk membayar balik total utang mereka. Sekarang Sago
mulai mengambil alih kekayaan riil dari masyarakat yang mengalami
default seperti tanah, rumah, sapi-sapi, domba, dll. Pemimpin mereka,
Taka juga berada diantara masyarakat yang mengalami default.

Akan tetapi, Sago memberikan tambahan uang kertas kepada masyarakat
suku Tukus sebagai penjadwalan ulang utang mereka. Praktik ini malah
lebih meningkatkan jumlah utang mereka. Belakangan Taka mengalami
default lagi dan kembali melakukan penjadwalan utangnya. Sekarang Taka
memutuskan untuk mencegah dirinya bertemu dengan Sago. Dia merasa
malu, semua kekuatan, kebanggaan, keberanian, dan martabat yang dia
punya selama ini telah jatuh ke titik terendah. Sebaliknya dia
mendapatkan kabar bahwa Sago secara perlahan berubah menjadi sangat
kaya dengan cara menyita aset-aset masyarakat. Kenyataannya, semua
kekuasaan, kebanggaan, keberanian dan martabat yang dimiliki Taka
selama ini sekarang telah berpindah ke tangan Sago.

Setelah beberapa tahun berlalu, Gago dan Sago yang dulu tiba di
pulau hanya dengan berbekalkan mesin cetak, kini menjelma menjadi
pemilik mayoritas tanah di kedua pulau Aya dan Baya beserta harta
benda di atasnya. Masyarakat berubah dari pemilik menjadi pekerja,
pemilik kebun berubah menjadi pekerja kebun karena kebun miliknya
telah disita oleh Sago dan Gago, diantara mereka banyak yang hidup
dalam kemiskinan. Banyak yang terpaksa kerja lembur hanya untuk
mendapatkan kebutuhan pokok. Sekarang mereka tidak lagi memiliki waktu
luang untuk keluarga, teman-teman maupun kegiatan-kegiatan keagamaan.
Masalah-masalah sosial mulai tumbuh subur. Masyarakat mulai acuh tak
acuh dengan sesama. Merajalelanya tingkat kemiskinan menyebabkan
masalah dan penyakit sosial seperti kejahatan, prostitusi, dan lainnya
tumbuh dengan pesat. Kebudayaan mereka perlahan tergelincir akibat
peran Gago dan Sago. Demikianlah akhir dari masyarakat suku Sukus dan
Tukus yang sebelumnya hidup tentram, damai, saling tolong-menolong,
gotong-royong sampai akhirnya Gago dan Sago tiba dengan mesin pencetak
uang kertasnya.

Gago dan Sago tidak berhenti sampai disitu. Mereka melanjutkan
petualangan melebarkan sayapnya kepada penduduk dan masyarakat pulau
lain. Mimpi akhir mereka adalah menjadi penguasa global tertinggi
dengan cara mendirikan bank tunggal global dengan mata uang tunggal
global.

"Perampok Bangsa-Bangsa"
karya Ahamed Kameel Mydin Meera
International Islamic University Malaysia

0 comments:

Post a Comment